POSTINGAN POPULER

Sunday, February 18, 2018

Mind Reading

Kamis sore akhirnya pesawat yang membawa saya dari Jakarta berhasil juga touch down di landasan pacu Bandara Adi Sucipto Yogyakarta setelah berputar-putar sekitar 30 menit di atas kota Yogyakarta. Beberapa kali pesawat terasa 'ngajlok' ke bawah karena mengalami turbulensi ketika mencoba menembus hujan lebat yang memang sudah melanda sepanjang perjalanan dari Jakarta.

Rasa syukur terucap dari kami para penumpang begitu pesawat mendarat dengan sempurna. Maka meski  mendapat pesan wa dari seorang kawan yang sedianya jemput namun urung, hati ini tak terlalu terganggu. Apalah artinya pembatalan tersebut dibandingkan dengan selamatnya pesawat yang kami tumpangi.

Sambil mendorong troly bermuatkan koper, tas ransel serta 2 koli materi pelatihan menuju pintu keluar, saya memesan layanan transportasi online. Sepanjang selasar layanan taksi bandara menawarkan jasa manis mereka, namun saya tolak halus dengan alasan sudah ada kawan yang akan jemput.

Dan ketika saya menunggu di halte taksi bandara tadi, saya mendapat telpon dari driver taksi online yang saya pesan, sebut saja namanya Roy.

"Dengan Bapak Haridewa? Saya Roy dari taksi online. Jadi mau dijemput dimana Pak?"
"Di bandara Mas Roy. Saya duduk di haltenya taksi bandara"
"Waduh maaf Pak Hari, saya tidak berani ke sana. Beberapa waktu yang lalu ada kejadian driver taksi online yang ditelanjangi dan mobilnya dirusak ketika nekat menjemput penumpang di dalam bandara. Saya tunggu di sebelah imigrasi, Bapak jalan sedikit ke depan ya?"
"Dalam hujan deras begini, Anda minta saya berjalan ke depan Mas Roy?. Apalagi sambil membawa koper dan 2 karton materi? Ah, seandainya Anda jadi saya, apa iya Anda akan melakukannya Mas? Dari suara Anda, saya tahu Anda itu orang baik. Saya yakin Anda pasti mau bantu saya. Iya khan Mas?"
"Emmmm, bagaimana ya? Baiklah saya jemput Bapak. Tapi HP jangan dimainkan ya Pak. Saya pakai Mobilio Dark Silver"
"Siap Mas Roy, saya pakai jaket hitam dan topi laken. Terimakasih Anda mau jemput saya"
***

Singkat kata saya berhasil diantarkan ke hotel tempat acara training akan saya lakukan hari ini dengan selamat, menggunakan Honda Mobilio yang terlihat masih baru, ditandai dengan beberapa panel yang masih terbungkus plastik. Sepanjang perjalanan saya ceritakan apa profesi saya dan apa kegiatan saya selama di Yogyakarta. Mas Roy adalah sarjana perhotelan asal Kalimantan yang baru lulus yang sedang merintis sebuah usaha sambil menjalankan taksi online tadi. 

Saya tanya Mas Roy, kenapa dia bersedia menjemput saya dengan risiko yang sedemikian besar hanya untuk ongkos Rp 30 ribu. Dia hanya menjawab bahwa ada keinginan untuk membantu saja, meski dia sadar ada sebuah risiko besar yang mengintainya. Kami lanjutkan diskusi sepanjang jalan menuju hotel, karena jalanan agak macet dikarenakan hujan yang belum juga reda. Dia banyak bertanya mengenai keilmuan hipnosis dan NLP yang saya pelajari selama ini. Dengan senang hati saya juga ceritakan beberapa aplikasi komunikasi persuasif yang membuat orang lain tak mampu menampik permintaan (bahasa halus dari perintah) kita. Saya perhatikan dia manggut-manggut mencoba mencerna informasi yang mungkin baru bagi dirinya. Tak terasa kami sudah sampai di loby hotel, dan sebelum saya turun akhirnya Mas Roy mengajukan sebuah pertanyaan yang rupanya dipendamnya sepanjang perjalanan,

"Jadi saya tadi dihipnotis ya Mas Hari, makanya saya mau jemput?" (Dia sudah tidak memanggil saya Pak, tapi Mas)
"Ooo tentu tidak Mas Roy. Anda adalah orang baik maka mau jemput saya. Besok hadir di kelas saya ya kalau mau tahu rahasianya"
***

Hehehe, bagi Anda yang pernah belajar NLP tentu tahu teknik apa yang saya gunakan untuk membujuk Mas Roy tadi.

Yang pertama saya gunakan As If Frame. 'Ah, seandainya Anda jadi saya, apa iya Anda akan melakukannya Mas?'

Sebuah framing yang membuat lawan bicara ikut merasakan situasi yang sedang kita rasakan. Ketika lawan bicara sudah merasakan situasi kita maka diharapkan mereka bisa mengerti kebutuhan kita saat itu, dan hal ini akan memengaruhi pengambilan keputusan mereka yang akan menguntungkan diri kita.

Teknik kedua adalah Mind Reading.

'Dari suara Anda, saya tahu Anda itu orang baik. Saya yakin Anda pasti mau bantu saya. Iya khan Mas?'

Kalimat yang saya ucapkan itu seolah saya bisa mengerti apa yang dipikirkan Mas Roy, setelah saya lakukan As If Frame tadi. Maka proses berpikir yang berada dalam benak Mas Roy saat itu menjadi lebih singkat, karena sudah saya bantu menegaskan bahwa orang baik pasti mau membantu orang lain. Alhasil dia memutuskan untuk menjemput saya ke dalam bandara, tanpa memedulikan risiko yang mungkin terjadi.

Yah itulah NLP, selalu mudah dan memudahkan hidup kita.

Terimakasih Mas Roy.

Semoga Workshop NLP Practitioner hari ini dan besok lancar. Aamiin

Tabik
- haridewa -
Happiness Life Coach
NLP Trainer
08179039372

Saturday, January 27, 2018

Percaya vs Yakin

Pagi ini saya mendengar tausiah Ust Abi Makky di salah satu stasiun TV swasta yang mengulas tentang adab dalam berdoa. Betapa banyak dari kita yang sering memanjatkan doa, namun merasa bahwa Allah tidak adil karena belum mengijabahnya juga.  Begitu sering kita berdoa minta kesejahteraan diiringi dengan ibadah tak kunjung putus namun hidup kita masih begini-begini saja. Sementara banyak pihak di luar sana yang sepertinya ibadahnya biasa saja kalau tak boleh dibilang ahli maksiat kok kehidupannya lebih sejahtera dibanding kita. Kira-kira begitu opening dari Ustadz Abi Makky.

Bahkan sebenarnya jajaran malaikat di atas sana sudah jengah dengan perilaku para ahli maksiat ini sehingga para malaikat itu menutup pintu langit agar doa ahli maksiat ini tidak tembus sampai ke langit. Namun anehnya Allah malah memerintahkan malaikatnya untuk membuka kembali pintu langit. Ketika mereka bertanya, maka Allah berkata, "Aku suka dengan keYAKINan mereka bahwa Aku akan mengabulkan doa mereka. Aku suka mereka YAKIN bahwa hanya Akulah yang mampu mengabulkan doa mereka. Dan Aku suka bahwa mereka YAKIN kalau Aku pasti mengabulkan doa mereka"

Wow, jadi ini rupanya salah satu kunci doa yang makbul!  YAKIN!

Dalam kisah lain ketika nabi Ibrahim menghadapi hukuman bakar oleh Namrud, datanglah Jibril menawarkan bantuan. Namun Ibrahim menolak dengan halus, "Aku memang sedang berada dalam masalah besar tapi aku tidak butuh bantuanmu wahai Jibril, aku hanya perlu bantuan Allah, karena aku YAKIN hanya Dia yang mampu membantuku selamat dari jilatan api yang membara ini". Maka Allah memerintahkan api untuk menjadi kawan Ibrahim, “Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (Qs 21 ; 69)

Saya yakin Anda juga pasti sudah membaca cerita sederhana di bawah ini:

Suatu hari di sebuah kampung diadakan shalat istisqa' untuk berdoa meminta hujan. Warga kampung pun berdatangan ke lapangan membawa sajadah dan alas. Ada keanehan saat seorang anak kecil datang tidak hanya membawa sajadah tapi juga membawa payung. Maka dia pun ditanya oleh warga lain mengapa membawa payung. Jawaban anak ini sungguh luar biasa "Saya YAKIN setelah shalat selesai Allah akan menurunkan hujan". Wow!

Keyakinan sangat penting dalam segala aktivitas kita. Keyakinan bisa membuat seseorang melakukan pekerjaan yang di luar nalar dan akal sehat manusia. Tindakan bisa positif bisa juga negatif. Teroris yang berani melakukan bom bunuh diri dilandasi oleh keyakinan yang salah. Jika keyakinannya benar maka tindakannya juga hasilnya berupa kebaikan dan kemenangan.
***

Sidang Pembaca yang budiman seringkali juga kita mendengar istilah ini. "Lu percaya sama gue khan?"
"Percaya kok!"
"Yakin?"
"Enggg... "

Sebenarnya apa sih perbedaan percaya  dan yakin ?  Untuk lebih mudahnya saya akan menggambarkannya melalui  cerita di bawah ini. 

Suatu hari Anda memasang lowongan kerja untuk driver karena Anda merasa capek kalau mesti berkendara Jakarta-Bogor setiap hari. Dari sekian banyak kandidat, akhirnya Anda memilih satu orang yang menurut Anda paling berkualitas sebagai seorang driver. Ini namanya PERCAYA. Anda percaya bahwa kandidat tadi memang memiliki kompetensi sebagai seorang driver dan mampu membawa mobil Anda dengan baik dan benar.

Di hari pertama Anda berkendara dengan driver tadi Anda masih belum merasa nyaman karena belum mengenal gaya menyupir driver tadi. Sampai setelah beberapa hari Anda mulai nyaman dan bahkan bisa tidur di perjalanan. Ini yang namanya YAKIN. Anda sudah menyerahkan hidup Anda di tangan driver Anda.

Kembali ke doa yang dikabulkan. Kalau selama ini Anda sudah berdoa, itu menandakan Anda percaya dengan adanya Allah,  namun sudahkah Anda siap menyerahkan hidup Anda kepada Allah? Kalau belum berarti Anda belum YAKIN.

Hasbunallah wanikmal wakil, 
nikmal maula wanikman nasir

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039272

Wednesday, January 24, 2018

Saya, Aku, atau Gue?

Sejak jaman Aristoteles,  kepribadian manusia sudah mulai dipilah dan dipilih sesuai dengan gejala psiko-motorik keseharian yang dominan dimunculkannya. Maka kita mengenal Koleris (si Kuat),  Sanguin (si Superstar),  Plegmatis (si Pencinta Damai),  dan Melankolis (si Sempurna). 

Koleris suka mengatur dan memerintah orang. Dia tidak mau ada orang berdiam diri saja sementara dia sibuk kerja/beraktivitas.  Orang dengan tipe sanguin terkenal dengan banyak omongnya, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik serta mengusasai pembicaraan.  Kaum plegmatis umumnya menghindari konflik alias netral, bagi mereka perdamaian itu nomer satu.  Mereka juga baik hati, pribadinya tenang rendah hati dan juga penyabar. Tipe Melankolis mempunyai sifat dasar yang tertutup. Mereka sering mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi dan bersifat estetis yang mendalam sehingga mereka lebih menghargai seni dibandingkan dengan perangai yang lainnya. Tipe Melankolis cenderung suka murung dan mudah putus asa.

Selain tipologi di atas, kita juga mengenal DISC (Dominance, Influence, Steadiness, Compliance), MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) dan beberapa varian ragam tipologi lainnya. NLP sebagai salah satu keilmuan yang dikenal cerdas dalam melakukan transformasi kepribadian manusia juga memiliki sistem tipologi tersendiri yang dikenal sebagai Meta Program. Istilah ini merujuk pada Program pada tataran Meta yang berfungsi sebagai alat sortir ketika kita akan memproses suatu pemaknaan melalui persepsi, meliputi proses input, filtering dan penyimpanan data yang pada akhirnya termanifestasi pada perilaku manusia.

“In Neuro-Linguistic Programming (NLP), meta-programs are the keys to the way you process information. They’re basically how you form your internal representations and direct your behavior” 

Meta program ini terbentuk dari pikiran dan perasaan yang muncul dalam diri kita secara berulang-ulang.  Memahami Meta program adalah prasyarat mutlak bagi terapis,  konselor, motivator, HRD people, pengusaha, atasan dan siapa saja yang ingin melakukan profiling,  baik dalam rangka mencari solusi terhadap masalah seseorang, membangkitkan semangat dan prestasi, dan lain sebagainya.

Dalam literatur dikenal ada puluhan meta program. Setidaknya menurut Michael Hall ada 60 meta program dari hasil penelitiannya. Namun, kita coba melihatnya dari Rodger Bailey yang melakukan riset secara empiris dan universal, yang dinamakan LAB (Language And Behaviour) Profile.  Adapun yang menjadi perhatiannya adalah struktur bahasa (language structure) seseorang.

Marilah kita simak beberapa meta program tersebut  :

- Proactive/Reactive
Ada beberapa orang yang terbiasa memulai sebuah aksi (proaktif) dan ada sebagian lainnya yang bereaksi atas sebuah aksi (reaktif)

- Toward/Away
Sebagian orang bergerak untuk mencapai kenikmatan  (toward), sementara sebagian lainnya bergerak untuk menjauhi kesengsaraan  (away)

- Internal/External
Sumber motivasi seseorang bisa berasal dari dalam dirinya (internal) atau bisa dari orang lain (eksternal)

- Optional/Prosedural
Ada orang yang langsung bisa dengan mudah mengambil pilihan-pilihan kegiatan atau usaha (opsional) namun ada juga yang senang dengan serangkaian prosedur atau seperangkat aturan untuk menjalankan sesuatu (prosedural)

- Sameness/Difference
Ada orang-orang yang senang ketika memasuki suatu pekerjaan atau usaha yang memiliki “persamaan” dengan yang pernah ia jalankan sebelumnya (Sameness).  Sedangkan adapula yang ketika disuguhkan pekerjaan yang itu-itu juga akan merasa cepat bosan dan ia ingin sesuatu yang lebih menantang dan berbeda (Difference)

- Feeling/Thinking
Ada beberapa orang yang melakukan penilaian berdasarkan “perasaan” mereka (Feeling), dan ada yang lebih dominan melihat dari sisi logika atau “Pikiran” (Thinking).
***

Sebagai terapis, saya dituntut untuk memahami profiling ini dengan baik agar segera tercipta keterhubungan bathin (connectedness) dengan klien dalam proses terapinya.

Setelah paham sumber motivasinya, kecenderungan feeling/thinkingnya, biasanya saya akan mencari tahu pendekatan internal/externalnya. Untuk klien dengan tipe external saya biasanya memberikan direct sugestion,  menggunakan sudut pandang orang kedua (Anda) dan mencari panggilan yang nyaman bagi klien sehingga sugesti akan menjadi lebih kuat.

Kalau di rumah seorang anak dipanggil 'kakak' maka saya juga akan menggunakan sebutan tersebut. Ketika seorang ibu muda lebih suka dipanggil Mbak/Teh, saya juga akan mengikutinya. Yang saya akan tolak ketika ada lelaki macho yang minta dipanggil 'Beb',  hiiiiy emang eike cowok apaan!  😀

Dan untuk tipe internal, saya akan meminta klien mengulangi dalam hati (atau mengucap dengan suara lembut) sugesti yang saya sampaikan yang biasanya menggunakan sudut pandang orang pertama (aku). Awalnya saya mengira varian orang pertama ini bisa diwakilkan oleh satu sebutan yang seragam yaitu aku atau saya. Namun saya mendapatkan pencerahan ketika melakukan terapi masal quit smoking beberapa waktu yang lalu.

Klien saya waktu itu adalah beberapa waitress di salah satu Resto favorit di kota Bogor. Kebetulan ke 5 klien ini bertipe internal, jadi setelah melakukan beberapa tahapan, saya mengunci niat berhenti merokok mereka dengan sugesti:

"Aku tahu, jauh di dalam diriku, bahwa Aku adalah tuan untuk diriku sendiri, tidak ada yang pernah bisa mengendalikan diriku, dan karena itu aku bisa menjadi apa pun yang aku inginkan …  oleh karena itu, aku memutuskan untuk berhenti merokok … aku  memutuskan untuk diri sendiri kapan harus benar-benar berhenti merokok … aku telah memutuskan untuk berhenti merokok. Dan waktu yang paling tepat untuk berhenti merokok adalah sekarang. Maka mulai sekarang dan selanjutnya aku adalah pribadi sehat tanpa rokok, dsb dst"

Setelah saya lakukan terminasi kemudian saya cek apakah mereka masih menginginkan rokok ketika saya tawarkan. Dan ternyata hanya satu orang yang betul-betul menolak bahkan terkesan mual ketika menerima rokok dari saya, sementara ke-empat kawannya masih bisa menikmati rokok mereka. Saya berfikir keras mencari tahu, pasti ada yang kurang tepat dalam penyusunan sugesti tadi. Kenapa hanya kurang tepat, bukan salah? Karena ada yang berhasil dipengaruhi.

Saya ingat satu presuposisi bahwa setiap individu adalah unik dan mereka merespon dunia eksternal sesuai dengan dunia internal mereka masing-masing. Kemudian saya tanya bagaimana mereka menyebut diri mereka ketika melakukan self talk. Klien yang terpengaruh oleh sugesti tadi menjawab,  'aku',  dua kawan di sampingnya menjawab 'abdi',  satu orang menjawab 'urang',  satu lagi menjawab 'aing'.

Dhuarrr,  bagai dikagetkan oleh geledek di siang bolong saya baru nyadar. Kok bisa hal ini terlewat dari pengamatan saya! Kalau untuk menyebut klien dalam sudut pandang orang kedua saja saya mencari varian sebutan yang nyaman bagi klien, rupanya connectedness klien kepada dirinya sendiri juga dibutuhkan dengan mencari varian sebutan yang paling nyaman bagi mereka.

Dan ketika proses terapi saya ulangi untuk ke empat klien tersisa dengan arahan untuk mengganti sebutan 'aku' dengan sebutan yang nyaman bagi mereka yaitu abdi, urang dan aing. Alhasil siang itu akhirnya saya mendapatkan sumbangan 5 bungkus rokok dikarenakan pemiliknya sudah insyaf dari kebiasaan merokoknya.
***

Sidang Pembaca yang budiman, mungkin ada sebagian dari Anda yang menganggap bahwa hal yang saya sampaikan ini adalah hal yang sepele dan remeh temeh. Namun tunggu dulu, sejak saat itu saya mencoba mencari korelasi dengan sendi kehidupan yang lebih luas yaitu mengenai keterhubungan kita dengan orang terdekat kita (keluarga) bahkan dengan  Sang Khalik. Coba cek lagi apakah kita sudah menyebut anak dan istri kita dengan sebutan yang nyaman untuk mereka?

Anak bungsu saya bernama Aditya Sakti Celestion Dewanto, dari kecil kami panggil dia Tion. Namun begitu menginjak SD, entah dengan alasan apa, dia minta dipanggil Adit di depan kawan-kawannya. Dia tidak akan merespon bahkan cenderung kesal ketika di depan kawan-kawannya kami panggil Tion. Mungkin Anda juga punya pengalaman sejenis.

Dalam tataran yang lebih relijius, apakah kita sudah memosisikan kedudukan kita di hadapan Allah dengan dekat? Maksud saya, apakah ketika mengucap doa, kita sudah betul-betul mendekatkan diri denganNya menggunakan sebutan orang pertama yang cocok, nyaman dan dekat?

Ini mirip dengan dialektika dalam keseharian, ketika berbincang dengan kawan yang menurut kita sudah dekat hubungannya, biasanya kita akan ber-'aku' atau ber-'gue', sementara ketika sedang berada di dalam forum atau kurang dekat hubungan kita dengan lawan bicara maka kita akan menggunakan kata ganti orang pertama 'saya'.

Nah, jika Anda merasa bahwa hubungan Anda dengan keluarga belum bagus, atau doa Anda selama ini belum ma'bul, cobalah teliti lagi apakah tingkat connectedness bathin Anda dengan keluarga atau dengan Allah sudah sangat erat.

Lu paham maksud gue khan? 😊

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
NLP Trainer
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

Artikel Unggulan

Mind Reading

Kamis sore akhirnya pesawat yang membawa saya dari Jakarta berhasil juga touch down di landasan pacu Bandara Adi Sucipto Yogyakarta setelah...