POSTINGAN POPULER

Monday, April 18, 2011

BE 100%

Membaca judul di atas, saya yakin membuat Anda teringat pada iklan salah satu minuman isotonic yang sedang marak di Negara kita tercinta ini. Tapi saya tidak sedang berniat untuk membahas tentang iklan yang menurut saya cenderung menyesatkan ketimbang bermanfaat. Namun kita harus maklum, karena mereka memang sedang berjualan. Satu hal yang bisa kita ambil hikmahnya adalah totalitas mereka dalam berjualan. Itulah yang bisa bernilai seratus persen.
Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sejenak. Seandainya kita diberi target sebesar 100 juta per bulan, dan di akhir bulan kita hanya berhasil mencapai angka 99 juta. Berapa persen menurut Anda pencapaian kita? Ya, saya yakin Anda akan menjawab 99%! Benarkah jawaban Anda tadi?
Marilah kita cermati tiga ilustrasi di bawah ini. Ilustrasi pertama, saya termasuk orang yang suka traveling, dan karena jarak yang saya tempuh lumayan jauh, saya lebih sering menggunakan pesawat udara. Dari informasi yang saya peroleh dari beberapa sumber yang bisa dipercaya, saya mendapatkan data sebagai berikut. Pesawat Boeing 737 tipe 800, membutuhkan landasan pacu sepanjang 2,2 km, dan akan mulai tinggal landas pada km 1,5, dengan kecepatan 296 km/jam. Seandainya saja karena satu dan lain hal, pada km 1,5, kecepatan yang dihasilkan pesawat tadi baru 295 km/jam, menurut Anda pesawat tadi bakal tinggal landas atau tidak? Bingung? Oke, karena saya tahu tidak semua dari kita belajar mekanika aerodinamis, maka saya kasih tahu saja jawabannya. Menurut hukum aerodinamika, rumus kecepatan 296 km/jam tadi adalah mutlak hukumnya. Artinya meskipun hanya kurang 1 km/jam, namun akibatnya bisa fatal. Boro-boro terbang, pesawat tadi akan tergelincir, dan bisa membahayakan awak pesawat maupun para penumpangnya.
Ilustrasi kedua. Pada suatu saat anak saya terserang demam dan batuk. Dokter menyatakan bahwa anak saya terkena infeksi, dan dokter memberikan resep antibiotic, sebut saja amoksisilin. Dosis yang diberikan dokter tadi adalah 10 mg/kg BB, 3 kali sehari, selama 7 hari. Nah, kalau saya sedang kekurangan biaya untuk menebus antibiotic tadi, kemudian saya menawar kepada dokternya untuk hanya meresepkan 9 mg/kg BB, 3 kali sehari, selama 7 hari. Menurut Anda, anak saya bakal sembuh atau tidak? Tidak? Ya, Anda benar. Alih-alih sembuh, yang terjadi justru resistensi pada anak saya! Mulai mengerti kemana arah pembicaraan saya?
llustrasi terakhir. Saya baru membeli sebuah TV LCD sebesar 54 inchi, dengan daya awal yang diperlukan untuk menyalakannya adalah 300 Watt. Dengan gembira saya membawa pulang TV tadi karena sudah tidak sabar untuk menikmati layar lebarnya. Sebenarnya rumah saya tidaklah terlalu besar, hanya tipe 36 dengan daya listrik hanya 900 Watt. Namun karena termakan iklan TV tadi, akhirnya terbeli juga barang yang sebenarnya belum terlalu saya butuhkan. Di rumah sudah ada beberapa peralatan elektronik seperti lemari pendingin, AC, dan tentunya beberapa lampu. Setelah saya kalkulasi, daya listrik yang sudah terserap selama ini ternyata adalah 601 Watt. Artinya hanya tersisa daya sebesar 299 Watt. Namun saking gembiranya, saya tidak mempedulikan fakta tadi. Saya tetap saja menghidupkan TV baru saya. Menurut Anda, TV saya akan menyala? Ya, sekali lagi Anda benar. Jangankan menikmati siaran TV, justru seluruh lampu di rumah saya menjadi mati. Njeglek!
Kalau kita hanya menelisik data secara tersurat, maka pertanyaan saya di awal tadi, yaitu target 100 juta, pencapaian 99 juta, maka hasilnya adalah 99%. Namun, coba kita renungkan lagi apa yang tersurat dan tersirat dari ketiga ilustrasi tadi. Ilustrasi pertama, 295/296 = 99,6 %. Tapi coba kita perhatikan tujuan utama pesawat tadi. Purpose of lifenya adalah terbang. Dan gara-gara kurang 1 km/jam, maka pesawat tadi menjadi tidak bisa terbang. Artinya dia gagal memenuhi purpose of lifenya. Ilustrasi kedua, 9/10 = 9%. Tujuan dari pengobatan adalah kesembuhan. Dengan kata lain optimal goal seorang dokter memberikan obat adalah sebuah kesembuhan. Jadi meski hanya kekurangan 1 mg saja, namun hasilnya menjadi nihil. Dan pada ilustrasi terakhirpun, kita bisa melihat, bahkan mungkin pernah mengalami. 299/300 = 99,6% juga, hanya karena kurang 1 watt, namun rumah kita malah mati lampu! Ketika kita menyepelekan sebuah fakta penting, maka kegagalan pula yang kita dapat.
Dari ketiga ilustrasi tadi, saya yakin Anda setuju dengan saya, bahwa ternyata ketika kita tidak atau belum melakukan usaha optimal kita, maka sama saja kita sedang mengalami sebuah kegagalan. Ketika kita terlalu banyak berkompromi dengan diri kita, maka kita justru sedang merencanakan kegagalan itu sendiri. Bahwa ketika tidak mencapai 100%, kita hanyalah mendapatkan 0%. Seringkali kita sudah berniat, atau mencanangkan sebuah resolusi, namun ketika halangan dan rintangan terlalu berat menghadang, kita kemudian mengasihani diri sendiri. Kita lalu beragumentasi. Bisikan-nisikan setan memenuhi gendang telinga kita. ‘Yang penting kan sudah berusaha’. ‘Ah, performaku khan nggak jelek-jelek amat, cuma kurang 5 persen kok’, atau kalimat semacam, ‘aku sudah melakukan yang terbaik kok’. Hati-hati kawan, ternyata melakukan yang terbaik saja tidak cukup ketika purpose of life kita belum tercapai. Mau tahu cara mengukur purpose of life kita? Simpel saja, cukup ajukan tiga pertanyaan ini kepada diri kita sendiri.
1. Untuk apa Tuhan menciptakan kita ?
2. Apa kontribusi kita di muka bumi ini ?
3. Ketika meninggal nanti, kita ingin dikenal sebagai apa?

Saya akan tutup tulisan ini dengan mengutip sebuah kalimat dari motivator nomer satu Indonesia, yang menurut saya sangatlah powerful. ‘Keraslah pada dirimu, maka hidupmu akan menjadi lunak. Dan lunaklah terhadap dirimu, kalau ingin hidupmu menjadi keras’. So, my friends Be 100%, otherwise you only get 0%.
haridewa, 25 Feb 2011.

No comments:

Artikel Unggulan

SLEIGHT OF MOUTH

Jumat berkah, meski tertanggal 13, namun saya doakan Anda semua berada dalam kondisi yang bergairah, penuh semangat dan dianugerahi rejeki ...