POSTINGAN POPULER

Monday, November 28, 2016

Aku Punya Allah

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11
 
 
 
“Aku punya Allah. Dia pasti akan menolongku”. Mungkin seringkali Anda mendengar statement seperti itu terucap dari kolega, teman atau keluarga Anda. Atau bahkan mungkin statement tersebut justru meluncur dari mulut Anda sendiri. Apa yang Anda rasakan ketika mendengar seseorang mengucap kalimat tersebut? Serasa orang tersebut begitu religiuskah? Atau seolah orang yang telah ‘berhasil’ burucap seperti itu adalah orang yang telah kaffah ibadahnya. Telah sempurna dalam melakukan semua usaha dan tinggal menunggu Allah menentukan nasibnya. Kalau memang seperti itu sikap dan perilaku orang yang berucap statement tersebut, maka alangkah mulia mental spiritual orang tadi.
 
Namun pernahkah Anda menjumpai orang yang sekedar berucap, tanpa terlihat sebuah usaha dalam kesehariannya. Mereka ini rajin berdoa dan mengatasnamakan Tuhannya namun tanpa mereka sadari mereka ternyata tidak melakukan usaha demi pencapaian doanya itu. Banyak sekali contoh yang bisa kita dapatkan. Mungkin Anda mempunyai teman yang kelihatan selalu optimis namun kehidupannya belumlah seoptimis sikapnya. Dari bibirnya sering terlafalkan dzikir namun kinerjanya malas-malasan, datang ke kantor terlambat, sering bermain games di komputernya dlsb. Kala ditegur atasannya atau ditanya oleh teman kantor maka dia akan mengemukakan statemen andalannya, “Aku punya Allah. Dia pasti akan menolongku”.
 
Pagi ini kebetulan saya mendapatkan sebuah email ‘pencerahan’ dari seorang kolega kantor yang mengutip sebuah artikel Jaya Suprana sbb: “Hidup itu seperti huruf i, tugas kita membuat garis dan tugas yang Maha Kuasa membuat titik di atasnya. Buatlah garis sebanyak-banyaknya karena kita tidak tahu mana yang akan diberi titik oleh-Nya. Jangan sampai Dia memberi titik sementara kita belum membuat garis.”
 
Pengusaha Jamu yang juga pendiri MURI [Museum Rekor-Dunia Indonesia] ini melanjutkan, “Huruf i itu juga bermakna, hidup harus punya 5i.” Artinya, kata Jaya Suprana, manusia harus punya idealisme atau sesuatu yang diperjuangkan.
 
“Kedua, jadilah manusia yang inovatif, punya ide dan gagasan yang ditawarkan kepada masyarakat. Selain itu, manusia juga harus punya inisiatif, tak boleh menunggu tetapi harus proaktif,” tambahnya.
 
Kemudian Jaya Suprana melanjutkan, i yang keempat adalah implementasi. “Percuma kita punya ide, gagasan dan inovasi bila tidak diimplementasikan. Dan percayalah, apabila kita melakukan 4i tersebut maka i yang kelima adalah insya Allah kita berhasil.”
 
Saya sangat setuju dengan prinsip 5i nya Jaya Suprana ini, karena memang Allah akan menolong kita setelah kita berusaha menolong diri kita dulu. Sebuah scenario lain yang mungkin pernah Anda Alami, atau pernah anda dengar. Ada seseorang atau sekelompok orang yang mulutnya sangat ‘tajam’, dia bisa mengkritik orang lain dengan sangat pedas. Mungkin apa yang dikatakannya kadangkala ada benarnya, namun cara penyampaiannya selalu merendahkan. Seolah hanya dialah pemegang kebenaran dunia ini. Alasannya selalu amar ma’ruf nahi munkar (menegakkan kebenaran dan memerangi kejahatan). Karena merasa benar, maka Allah pasti akan menolong mereka. Mereka lupa bahwa amar ma’ruf haruslah bil ma’ruf juga (menegakkan kebenaran dengan cara yang benar), karena justru bil ma’ruf inilah sebuah inisiatif yang harus dilakukan agar Allah senantiasa menolong kita. Karena meski kita merasa punya Allah, kenyataannya Allah tidak akan serta merta menolong kita. Sebuah contoh lain lagi, ketika kita berhadapan dengan preman. Meski kita merasa benar dan punya Allah, namun lisan kita adalah senjata yang telah diberikan Allah untuk mengucapkan kata-kata yang mampu melunakkan hati para preman ini, bukan sebaliknya malah berkata sesumbar dan menantang para preman tadi yang memungkinkan mereka melukai kita. Allah tidak akan serta merta menurunkan malaikatnya untuk menolong kita, karena kita sudah dipersenjatai dengan akal budi yang memungkinkan kehalusan tutur kata kita dalam menghadapi para preman tadi.
 
Mungkin Anda pernah mendengar cerita di bawah ini:
 
Pada suatu hari terjadi banjir besar, ada seorang korban yang selama ini hidupnya sangat taat beragama, iman yang luar biasa, tekun berdoa. Terkena banjir inipun dia berdoa terus mohon pertolongan Allah. Para tetangganya mulai mengungsi dan mengajak dia tetapi dia tidak mau karena dia pikir Allah akan menolongnya. Kemudian datang sekelompok pemuda kampung itu menggunakan kayu yang diikat sebagai perahu, mengajaknya untuk mengungsi, dia pun tidak mau ikut karena dia sangat yakin Allah akan menolongnya. Sampai akhirnya datang tim SAR menawarkan bantuan,  dia juga tidak mau ditolong. Akhirnya orang yang taat beribadah inipun meninggal karena tenggelam.
 
 
 
Singkat kata di akhirat dia bertemu  Tuhan dan dia langsung protes : " Tuhan kenapa Engkau tidak menolongku, padahal aku sudah minta tolong padaMu ?" Dengan tersenyum Tuhan menjawab "Lho ... kan sudah Aku kirim pertolongan, apalagi sampai tiga kali "
 
Wallahualam bissawab
 
-haridewa-

No comments:

Artikel Unggulan

FRAME

"Pa, ini ada springbed lagi discount 70%, dari 3 jutaan menjadi 1 jutaan. Murah ya Pa. Beliin dong untuk hadiah ultah", demikian ...