POSTINGAN POPULER

Monday, November 28, 2016

Jangan Takut Ditolak

Waktu bergulir begitu cepat. Detik berganti menit. Hari berubah minggu. Bulan pun berganti tahun. Biarlah semua terbenam bersama Matahari terakhir tahun 2014 & sambutlah Fajar pertama tahun 2015 dengan Semangat Baru dan mari kita songsong:
 
1 tahun Kebahagiaan,
12 bulan Kedamaian,
365 hari Kegembiraan,
8.760 jam Kasih Sayang,
525.600 menit Cinta,
31.536.000 detik Persahabatan........
 
Selamat Tahun Baru 2015, semoga tahun baru ini membawa keyakinan baru, kedewasaan baru untuk kita mencapai ambisi baru yang tentunya lebih menantang lagi.
 
Mengawali tahun baru 2015 ini, saya ingin sedikit sharing tentang ilmu yang saya dapat dari pakar happiness Indonesia, Arvan Pradiansyah, yaitu tentang PENOLAKAN. Saya dapatkan pemahaman baru mengenai PENOLAKAN ini di program Smart Happiness yang dipancarkan oleh radio Smart FM setiap Jumat pagi pukul 07.00 – 08.00. Karena saya yakin bahwa dalam pekerjaan kita, seringkali kita mendapatkan penolakan, maka saya merasa perlu untuk berbagi pemahaman baru ini kepada Anda semua.
 
Sahabatku, saat ditolak seringkali kita merasa dunia ini  hancur, kita jadi merasa tak berguna lagi, atau sebaliknya kita menjadi mendendam buta, menyalahkan si penolak, menyalahkan atasan, menyalahkan keadaan dan runyamnya akhirnya menyalahkan Tuhan! Padahal hanya dengan merubah sedikit sudut pandang, kita bisa merasa berbeda ketika menghadapi sebuah penolakan. Kita boleh bangga dengan sebuah penolakan, karena itu artinya kita sudah pernah mencoba. Coba bayangkan ketika Anda mendamba seorang wanita cantik atau pria ganteng, dan Anda hanya diam saja tanpa berani mengatakannya? Tentu Anda akan merasa penasaran tak berkesudahan. Dengan menyatakannya, dan meski kemudian ditolak, maka lunas semua penasaran yang pernah ada. Betul tidak? (he he kayak Aa Gym saja ya?). Dari sudut pandang lain, ditolak itu merupakan perintah kepada diri kita untuk memperbaiki diri.
 
Nah, menghadapi tahun baru ini,marilah kita lihat beberapa cara pandang baru ketika ditolak :
 Penolakan itu bersifat sementara, artinya apa? Jangan berhenti ketika ditolak. Karena penolakan merupakan perintah untuk kita memperbaiki diri, maka segera perbaiki diri kita, kualitasnya, kuantitasnya dll, dan segera beraksi lagi. Sifat sementara sebuah penolakan akan berubah menjadi permanen, hanya ketika kita BERHENTI MENCOBA!Pikirkan bahwa pihak yang menolak kita adalah pihak rugi, dengan catatan bahwa kualitas (produk) kita memang bagus dan layak diterima. Tapi kalau kualitas kita memang belum bagus, kembali ke pemahamam bahwa penolakan adalah perintah memperbaiki diri.Dengan ditolak membuat kita menjadi lebih bersabar, lebih memikirkan keinginan orang lain. Dengan ditolak kita juga jadi lebih bersyukur. Hal ini membuat kita menjadi lebih hebat karena kita sudah belajar dari penolakan. Penolakan hanya proses dari pendewasaan.Orang yang menolak kita memang sudah melihat manfaat yang kita tawarkan, tetapi belum sesuai dengan harga yang kita berikan. Kenapa ditolak ? Karena orang belum melihat manfaat kita. Supaya bisa diterima kita harus mampu berkomunikasi dengan baik. Kita harus berorientasi pada orang lain, dengan cara memahami konteks tantangan yang dihadapi orang lain. Semua orang yang berhasil sekarang, adalah orang yang dulunya ditolak dan terus berusaha agar diterima.
 
Sahabatku, sebelum terkenal grup band legendaris The Beatless saja berulangkali mengalami penolakan. Pengarang terkaya di dunia JK Rowling juga berulangkali ditolak sebelum akhirnya berhasil menerbitkan novel fenomenal Harry Potter. Prinsipnya adalah ketika tidak melakukan apa-apa kita tidak akan tahu apakah ditolak atau diterima. Yang terpenting adalah mencoba. Harus diingat bahwa semakin sering ditolak, maka semakin dekat dengan keberhasilan. Jadi tunggu apalagi kawan? Segera kejar resolusi tahun baru Anda sekarang juga....
 
tabik
-haridewa-
awaltahunduaribulimabelas

No comments:

Artikel Unggulan

FRAME

"Pa, ini ada springbed lagi discount 70%, dari 3 jutaan menjadi 1 jutaan. Murah ya Pa. Beliin dong untuk hadiah ultah", demikian ...