POSTINGAN POPULER

Monday, November 28, 2016

Sudah Nggak Malu

Berikut cerita  tentang kawan kuliah saya yang masih suka mengompol. Cerita ini terjadi beberapa waktu yang lalu ketika saya masih kuliah di kota Jogjakarta. Meskipun sudah dewasa namun dia mengaku masih sering pipis sambil tidur. Sudah bermacam cara dilakukannya untuk mengatasi masalah yang memalukan ini. Suatu hari dia curhat bahwa dia merasa sangat terganggu dengan kelainannya ini. ‘Bro, aku benar-banar tersiksa dengan penyakitku ini. Malu banget tahu gak? Apalagi calon mertua sudah menanyakan keseriusanku terhadap anak gadisnya. Malu khan, kalau sampai ketahuan aku masih ngompol!. Masak sudah mau nikah kok masih ngompol. Apa kata dunia?’, keluhnya. Dalam hati sebenarnya aku merasa kasihan sekalgus geli. Apa jadinya kalau malam pertama terjadi insiden ‘ngompol’ tadi. Bisa gempar rumah mempelai wanita. Apalagi menurut pengakuan teman saya tadi, pacarnya juga tidak tahu kebiasaan buruk ini.
Kebetulan beberapa waktu sebelumnya, saya pernah mendengar tentang paranormal yang sedang naik daun yang membuka praktek di bagian selatan kota Jogja. Maka saya sarankan kawan saya tadi untuk mencoba peruntungannya berobat ke paranormal tadi. Singkat cerita beberapa hari kemudian saya bertemu dia lagi di bis kota dalam perjalanan ke kampus.
 
Saya                       : ‘Gimana Bro, sudah berobat ke paranormal yang aku sarankan?’
Kawan saya        : ‘Sudah dong’
Saya                       : ‘Syukurlah kalau begitu. Berhasil dong?’
Kawan saya        : ‘Berhasil lah. Apa kamu nggak lihat aku sudah ceria begini?
Saya                       : ‘Beneran nih. Sudah nggak ngompol lagi?’
Kawan saya        : ‘Ooo kalau itu masih...’
Saya                       : ‘Lah kok...!’
Kawan saya        : ‘Tapi aku sudah nggak malu lagi...!’
Hahahahaha.
***
Anda boleh saja menertawakan kisah kawan saya tadi. Kita semua tahu bahwa seharusnya yang diobati adalah akar masalahnya bukan sekedar ‘symptom’ atau gejala bawaannya. Namun seringkali kita tidak berhasil menemukan akar sebuah masalah, atau malas mencarinya sehingga akhirnya cuma menangani gejala bawaannya.
 
Dalam kasus terapi, menemukan akar masalah menjadi hal yang sangat krusial dan penting untuk dilakukan, karena banyak kasus yang tak terselesaikan ketika kita gagal menemukan akar masalah tadi. Ibarat memadamkan kebakaran maka kita mesti mencari sumber apinya, bukan sekedar menghalau asap yang terlihat sangat mengganggu itu. Dalam pengalaman saya, beberapa kasus penyakit maag atau migrain yang sudah diperiksa menggunakan pengobatan modern maupun alternatif dan hasilnya nihil ternyata berhasil diterapi menggunakan aplikasi hipnosis ketika akhirnya diketahui bahwa penyakit itu adalah bawaan dari sebuah dendam di dasar hatinya yang paling dalam. Kasus-kasus tersebut biasanya terjadi di masa lalu klien, dan karena intensitas sakit hatinya yang sangat kronis maka tanpa sadar (unconsciously) hal ini memicu asam lambung dan atau titik migrain di kepalanya. Untuk menangani kasus seperti ini biasanya saya gunakan past life age regression. Klien akan saya bawa kembali ke masa lalu dimana insiden yang telah membuat sakit hatinya itu muncul, untuk kemudian meminta dia memaafkan tokoh yang telah menyakiti hatinya. Perlu dilakukan edukasi sebelum meminta klien memaafkan orang yang telah menyakitinya, karena banyak orang yang tidak mau memaafkan pihak yang dianggapnya telah menghancurkan hidupnya. Biasanya saya mengibaratkan kalau klien tersebut tidak mau memaafkan pihak yang telah menyakitinya, itu sama saja bahwa mereka akan selalu menggendong pihak tersebut. Tentu saja masih dalam kondisi trance, klien bisa kita minta untuk membayangkan betapa beratnya menggendong orang yang bisa jadi ukuran tubuhnya lebih besar dari mereka. Biasanya teknik ini kemudian membuahkan hasil. Klien tadi mau memaafkan, dan ajaibnya begitu dia disadarkan dari trancenya, penyakit maag atau migrainnya sudah hilang. Itulah hebatnya teknik forgiveness therapy.
 
Di lain waktu ada klien seorang laki-laki pengusaha yang mengaku selalu gagal ketika memulai bisnis kulinernya. Semua daya upaya telah dia lakukan, bahkan berbagai pelatihan wirausaha kuliner juga telah dia ikuti, namun tetap saja usaha kulinernya tidak pernah berkembang, kalau tidak mau dikatakan bangkrut. Menggunakan teknik yang sama yaitu past life age regression, akhirnya saya berhasil menemukan akar masalahnya. Ternyata ketika anak-anak, pengusaha ini suka bermain ‘pasaran’ (bermain masak-masakan) bersama kakak-kakak perempuannya. Suatu hari ketika sedang asyik bermain pasaran, ayahnya pulang dan ketika melihat anak laki-lakinya ‘pasaran’, sang ayah langsung murka. Sambil melempar semua peralatan mainnya sang ayah mengatakan bahwa ‘pasaran’ bukanlah mainan anak laki. Anak laki seharusnya lebih jantan, bermain perang-perangan atau mobil-mobilan. Banyak kata kasar yang keluar dari mulut sang ayah saat itu. Bapak pengusaha (yang masih kecil) ini sangat ketakutan, dan hanya bisa menangis untuk kemudian lari menghambur ke pelukan ibunya. Tanpa disadari rupanya kemarahan sang ayah telah menjadi belief dalam pikiran pengusaha tadi, bahwa laki-laki tidak boleh main masak-masakan (yang oleh bawah sadarnya dibaca sebagai tidak boleh berbisnis kuliner). Setelah diterapi akar masalahnya tadi dengan menghadirkan figur ayahnya lagi (karena ayahnya sudah meninggal dunia) yang kemudian secara imajiner mengatakan bahwa anaknya boleh bermain pasaran dlsb, maka anehnya beberapa bulan kemudian pengusaha tadi menceritakan bahwa usaha kulinernya pelahan namun pasti sudah mengalami peningkatan.  
Sepertinya memang beberapa cerita di atas terdengar tidak masuk akal dan sangat aneh. Apa hubungan alam bawah sadar dengan alam semesta ini? Masak sih, hanya dengan memberikan maaf secara imajiner mampu mengibati penyakit? Apa benar hanya dengan mendengar pesan orangtua yang telah meninggal secara imajiner juga mampu meningkatkan sebuah bisnis? Aneh ketika Anda tidak memahami kekuatan bawah sadar kita yang memiliki porsi 88%, dibandingkan dengan pikiran sadar yang hanya 12%.
 
Bila Anda sudah membaca buku fenomenal karya Rhonda Byrne yaitu The Secret, maka tentu Anda akan lebih mengerti mengenai kekuatan pikiran Anda. Pikiran bersifat magnetis, dan pikiran memiliki frekuensi.  Ketika Anda memikirkan suatu hal, pikiran-pikiran itu dipancarkan ke semesta, dan secara magnetis pikiran akan menarik hal serupa yang berada di frekuensi yang sama. Segala sesuatu yang dikirim keluar akan kembali ke sumbernya, Anda.
 
Anda seperti sebuah menara penyiaran, yang memancarkan frekuensi dengan pikiran-pikiran Anda. Jika Anda ingin mengubah sesuatu dalam hidup Anda, ubahlah frekuensi dengan mengubah pikiran Anda.
 
Pikiran yang  Anda pikirkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masa depan Anda. Apa yang paling Anda pikirkan atau fokuskan akan muncul sebagai kenyataan dalam hidup Anda. Pikiran Anda akan menjadi sesuatu.  Alhamdullillah ya..., seperti itu, lalu.....
 
-haridewa-
28042915

No comments:

Artikel Unggulan

Tanah Rot

Sepasang suami istri sedang menikmati bulan madu mereka di Pulau Dewata, Bali. Hari ini mereka berniat mengunjungi Tanah Lot untuk menyaksi...