POSTINGAN POPULER

Thursday, February 02, 2017

The Diamond Business

Ketika Anda membaca judul artikel ini, janganlah berpikir bahwa saya sedang mengajak Anda untuk berbisnis berlian. Mungkin tepatnya bukan tidak, tapi belum saatnya saya mengajak Anda untuk melakukan bisnis itu. Suatu saat nanti, mungkin saja salah satu dari Anda akan menjalankan bisnis ini. Who knows?

Sahabatku yang berbahagia, kali ini saya ingin share mengenai  ilmu bisnis yang saya dapatkan dari salah satu guru bisnis saya  beberapa waktu yang lalu.

Ssssst, tapi janji ya ini adalah rahasia antara kita, karena waktu itu saya juga diminta untuk menjaga ilmu ini hanya untuk saya saja. Bener ya, jangan diobral kemana-mana ilmu ini, karena bisa berbahaya akibatnya kalau seluruh dunia tahu mengenai ilmu yang maha dahsyat ini, hehehe.

Well, karena Anda semua telah berjanji, maka saya akan share ilmu ini. Namun sebelumnya bolehkah Anda menjawab dulu beberapa pertanyaan di bawah ini?

1. Siapa diri kita sebenarnya?
2. Dari mana kita berasal?
3. Untuk apakah kita berada di dunia ini?
4. Mengapa kita berada di sini pada saat ini? Apa misi yang kita emban?
5. Apa yang akan kita tinggalkan ketika meninggal nanti?
6. Ke mana kita akan menuju setelah meninggal nanti?

Sudah dijawab seluruh pertanyaan tadi? Bagus! Kalaupun belum bisa dijawab sekarang juga tidak mengapa. Jadikanlah ini pertanyaan virtual Anda sembari menyelesaikan membaca artikel ini.

Sebenarnya pertanyaan di atas sedang mengarahkan kita untuk menemukan visi hidup kita atau istilah kerennya adalah purpose of life. Tujuan hidup.

Dalam banyak buku pengembangan diri, disampaikan bahwa yang terpenting dalam hidup kita bukanlah posisi dan pengetahuan yang kita miliki melainkan kontribusi yang telah kita berikan. Bahkan kelak di akhir jaman kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah kita lakukan di dunia ini, bukan karena pengetahuan dan posisi yang kita miliki.
***

Sahabatku yang berbahagia, sebagai warga negara yang baik, tentunya kita ingin memberikan kontribusi sebagai orang yang sukses dan mulia bukan?

Kenapa sudah  sukses harus  mulia pula? Memangnya ada orang yang sukses namun tidak mulia, atau sebaliknya mulia namun belum sukses?

Tentu saja ada kawan. Apa sih sebenarnya tolok ukur sukses itu? Banyak harta? Kalau memang itu yang dijadikan tolok ukur, mari kita cermati alangkah banyaknya orang berlimpah harta di Negara kita tercinta ini. Gayus contohnya, saya yakin sampai sekarang hartanya masih berlimpah ruah. Bolehlah kita sebut dia sebagai orang sukses, tapi apakah dia termasuk orang berkategori mulia? Ah saya yakin Anda bisa menjawab sendiri. Dan masih banyak lagi contohnya.

Kalau orang yang mulia tapi tidak atau belum sukses? Banyak orang yang ‘nekat’ mendirikan sekolah, atau bahkan pesantren dengan moto menjadikan santrinya rahmatan lil alamin, namun resources dan sumber dananya sangatlah minim. Dari visi dan misinya orang-orang tersebut bisa kita katakana mulia, sangat mulia bahkan. Pertanyaannya adalah dari manakah mereka mendapatkan sumber dana?

Modal proposal!
Seringkali bukan kita mendapati orang yang membawa proposal mengatasnamakan yayasan tertentu, atau pesantren tertentu. Bahkan beberapa di antara mereka menyanyikan lagu qasidah, 'yaa dana, yaa dana dana', hehehe….

Bagaimana mau menjadi rahmatan lil alamin kalau untuk mendanai diri sendiri saja mesti merepotkan orang lain?

Hanya dengan menjadi pengusaha sukses mulialah kita bisa menjadi rahmatan lil alamin. Rahmat bagi alam beserta seluruh isinya. Mau tahu caranya? Mau tahu saja atau mau tahu banget? 
***

Ternyata ketika kita hendak berbisnis, hal utama yang perlu diperhatikan adalah pada niatnya.

Innamal a'malu binniyyat, wa innama likullimri in Maanawa. Sesungguhnya perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya (jadilah) bagi setiap orang apa yang ia niatkan.

Bahasa keren dari niat ini adalah the power of intention. Ketika niat kita salah, maka salah pula jalan yang akan kita tempuh. Dan hanya berniat karena Allah-lah, maka tujuan hidup kita akan tercapai.

Ada tiga kriteria manusia dan perilakunya berdasarkan pada niatnya :

1. Karena KEPEPET
Meski berada pada urutan pertama, namun golongan ini bukanlah yang terbaik, justru sebaliknya. Orang-orang pada golongan ini melakukan bisnis karena sudah tidak ada pilihan lain. Hutang sudah menumpuk dengan bunga yang beranak pinak, keahlian pun terbatas, sampai akhirnya mereka terpojok dan tidak ada jalan lain selain melakukan bisnis. Biasanya orang macam ini perilakunya adalah tidak memiliki rencana jelas, grusa grusu, panik, nekat, dsb.

2. Karena ingin KAYA
Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk kaya. Kekayaan juga tidak identik dengan kemudharatan. Bahkan sebagai muslim kita diwajibkan untuk kaya agar bisa menyantuni orang lain. Yang perlu dikhawatirkan adalah membabi buta untuk kaya. Atau yang penting kaya, asal kaya, dsb. Karena ketika mata orang-orang ini sudah dibutakan oleh kekayaan duniawi maka perilaku mereka menjadi egois, pelit, serakah, tidak peduli lagi halal-haram dsb.

3. Karena ingin ber-KONTRIBUSI
Ternyata kita bertemu lagi dengan kata kontribusi. Pada awal tulisan ini saya sudah membahas mengenai kontribusi, maka sekarang saya akan langsung memberikan contohnya saja. Anda kenal Bill Gates, Steve Jobs, Abdurahman bin Auf? Kita semua tahu bahwa Bill Gates merupakan salah satu orang paling kaya di dunia. Namun ketika memulai bisnisnya apakah karena kepepet? Atau dia memang meniatkan untuk menjadi kaya raya seperti sekarang ini?

Ternyata tidak, inilah visi atau niat awal Bill Gates mendirikan Microsoft: ‘Suatu saat nanti seluruh rumah di dunia ini akan menggunakan komputer dan Windows menjadi sistem operasinya’.
Akhir-akhir ini Bill dan Melinda Gates melalui yayasannya menyumbangkan ratusan juta dolar untuk pemberantasan penyakit tropis yang terabaikan, untuk AIDS dll. Kalau ditotal yayasan itu sudah menyalurkan lebih dari setengah kekayaan Bill Gates dan istrinya.

Bagaimana dengan Steve Jobs? Visinya mirip dengan Gates yaitu untuk menempatkan komputer di setiap tangan orang setiap hari. Meskipun karirnya dipenuhi dengan intrik sesama karyawan bahkan sempat terdepak dari perusahaan yang didirikannya namun dengan gaya dan typenya tersendiri Jobs juga mampu menempatkan diri sebagai salah satu orang yang paling berpengaruh dan mampu merubah dunia. Apakah semua itu dilakukannya karena kepepet, karena ingin kaya? Semua orang tahu quote Jobs yang sangat terkenal itu : ‘Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda cintai. Sangat berguna untuk bekerja dengan apa yang Anda cintai untuk seseorang yang dicintai. Pekerjaan Anda akan mengisi sebagian besar hidup Anda, dan satu-satunya cara untuk benar-benar puas adalah melakukan apa yang Anda yakini adalah pekerjaan yang benar. Satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan besar adalah mencintai apa yang Anda lakukan”

Nah, bagaimana pula dengan Abdurrahman bin Auf, salah satu sahabat nabi yang rela menyumbangkan seluruh hartanya demi perjuangan Nabi saw? Ketika hijrah dari Mekah ke Yatsrib, Abdurrahman bin ‘Auf ra  bangkrut sehingga jatuh miskin.  Saat itu di jazirah Yatsrib sedang diberlakukan sistem akhawain (dipersaudarakan dua-dua / taākhi) antara muhajirin dan anshor. Seorang sahabat dari anshor menawarkan dengan ikhlas sebagian dari harta, satu dari dua rumahnya, dan satu dari dua orang istrinya untuk menjadi milik Abdurrahman bin ‘Auf. Namun, sang maestro ekonomi Islam ini menolak dengan santun semua tawaran kebaikan sang sahabat anshor tersebut, dan meminta dengan hormat “Cukup tunjukkan kepadaku di mana letak PASAR..!!”

Sebuah konsep sederhana yang dilakukan oleh para sahabat, untuk tidak menjadi peminta-minta meskipun di saat sulit, tetapi menguatkan akar kemandirian dalam ekonomi dan etos kerja yang tinggi. Untuk menunjukkan kontribusi. Karena dengan pergi ke pasar dan memulai berdagang dengan syar’ie maka Abdurrahman bin Auf kemudian mendapatkan kembali kekayaannya agar dia tetap bisa membantu nabi saw menegakkan panji-panji kebesaran Islam. Masya Allah.

Sahabatku yang berbahagia, dari ketiga contoh orang sukses di atas, meski tidak semuanya adalah muslim, namun satu persamaan mereka adalah niat untuk memberikan kontribusi tadi. Namun apakah cukup dengan niat saja kita sudah bisa menjadi pengusaha sukses mulia? Tentu tidak!
Aa Gym pernah berkata, untuk bisa sukses maka kita harus senantiasa meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar.

Kita sudah belajar meluruskan niat, dengan visi ingin menjadi pengusaha sukses mulia yang rahmatan lil alamin, maka berikut ini saya akan share ‘berlian’-nya guru saya,  yang saya sebut sebagai The Diamond Business. Menurut guru saya tadi agar bisnis kita bisa menghasilkan profit yang terus menerus maka bisnis itu harus mempunyai empat dimensi sbb:
1. Link to Purpose of Life
2. Market Ideal
3. Fit to Me
4. Values
***

Cara memahami berlian ini adalah dimulai dari pondasinya yaitu :

1. VALUES atau nilai-nilai. Values yang dimaksud di sini adalah bahwa bisnis kita harus memiliki suatu hal khusus (diferenciate) yang mampu menjawab  kebutuhan orang banyak. Values ini harus mampu menjawab:

- PAIN: apa rasa sakit/ketidaknyamanan orang banyak yang mampu kita obati? Kalau produk kita berupa jasa maka ‘masalah’ apa yang bisa kita selesaikan?

- HOPE: Harapan apa yang sejauh ini belum terpenuhi. Banyak sudah produk barang maupun jasa yang  beredar di pasaran, namun apakah semua harapan konsumen sudah terpenuhi?

- USP (Unique Selling Proposition) atau kalau menurut Ippho Santosa disebut sebagai sang Pembeda Abadi. Barang ataupun jasa yang Anda tawarkan haruslah mempunyai posisi tersendiri di mata umum. Tanpa harus merendahkan produk lain, Anda bisa menonjolkan satu atau lebih produk Anda yang tidak dimiliki oleh produk lain

2. MARKET IDEAL atau pasar yang sesuai. Ketika Anda berbelanja ke pasar tradisional dan berniat membeli beberapa barang maka biasanya Anda akan menawar sebelum akhirnya membeli barang tersebut. Ini hal yang biasa terjadi karena memang tawar menawar merupakan salah satu seni berbelanja di pasar tradisional. Justru aneh rasanya ketika Anda berbelanja di pasar tradisional tanpa menawar.
Namun beda masalahnya ketika Anda mencoba menawar harga barang di supermarket, bisa-bisa Anda akan ditertawakan oleh kasirnya atau malah diusir security mereka. Inilah yang dimaksud dengan market ideal, Anda harus berani menentukan mau memasuki pasar yang mana. Pasar dengan konsumen yang siap membayar sesuai dengan syarat dan ketentuan yang telah Anda tentukan. Akibat yang fatal ketika Anda salah menentukan market ideal Anda maka yang terjadi adalah produk Anda akan selalu ditawar oleh orang, sampai satu titik Anda terpaksa melakukan diskon besar-besaran yang ujung-ujungnya Anda tidak akan mendapatkan profit!

3. FIT TO ME atau gue bangets! Untuk lebih memahami dimensi yang satu ini silakan Anda membaca lagi quote Steve Jobs di atas.

Ya, kita harus mencintai apa yang kita lakukan. Kita harus merasa nyaman dalam melakukan bisnis kita. Karena satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan besar adalah mencintai apa yang Anda lakukan. Dengan melakukan apa yang Anda cintai maka Anda akan mendapatkan passion atau ghirah Anda.

Arvan Pradiansyah dalam bukunya 'I Love Monday' membagi dimensi ini  menjadi 3 :

a. Pekerjaan hanya sebagai job. Orang bekerja hanya menjalankan scenario orang lain (atasannya). Orang bekerja hanya mencari uang saja, karena tanpa uang darimana kita bisa hidup? Orang seperti ini tidak akan sukses!

b. Pekerjaan sebagai career. Paradigma kedua ini sudah menempatkan diri kita sebagai sutradara kehidupan kita sendiri. Kitalah yang akan menyusun rencana-rencana besar kita. Paradigm kedua ini akan menghasilkan kesuksesan, namun belum kebahagiaan.

c. Pekerjaan sebagai calling (panggilan) Tuhan. Tuhan menurunkan semua manusia tentunya dengan maksud tertentu. Maksud itu sesungguhnya merupakan misi hidup dan alasan kita dilahirkan ke dunia ini. Seperti saya, setelah limabelas tahun meniti karir, akhirnya saya menemukan bahwa ternyata calling saya, pekerjaan yang fit for me, adalah menjadi trainer. Istilah kata, tanpa dibayarpun, saya tetap bersedia untuk memberikan pelatihan, dengan kualitas yang tetap powerful. Apalagi kalau dibayar, hehehe.

4. LINK TO PURPOSE OF LIFE. Maksudnya bisnis tadi seharusnya bisa menjadi kendaraan kita untuk mencapai tujuan hidup kita. Apapun bisnis yang akan kita geluti seharusnya sejalan dengan misi kita hidup di dunia. Saya yakin tentunya Anda sudah merumuskan apa misi hidup Anda, karena Anda hanya perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sampai sekarang saya yakin masih berputar-putar di kepala Anda menunggu jawaban pasti, hehehe.

Dengan mengikuti ke empat dimensi bisnis ini maka in syaa Allah Anda akan menjadi pengusaha sukses mulia yang tak terhentikan. Unstopable.

Sahabatku yang berbahagia, kita tahu bahwa tokoh penting dunia yaitu Neil Amstrong, orang pertama yang menjejakkan kakinya di bulan telah dipanggil Tuhan. Tentu Anda sependapat dengan saya bahwa Neil Amstrong pada waktu itu dikirim ke bulan untuk misi tertentu. Dan tentunya pula begitu dia selesai menjalankan tugasnya, sekembalinya dia ke bumi dia akan dimintai laporan atas misi yang diembannya.

Nah, kalau Anda sudah menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan di awal tulisan ini, tentunya Anda semua sadar bahwa Allah menurunkan Anda di Indonesia ini, di masa ini untuk menuntaskan sebuah misi tertentu.

Maka untuk menutup tulisan ini marilah kita berandai-andai, ketika suatu saat nanti di akhirat Allah menanyakan kepada Anda sbb:

“Wahai fulan (ganti fulan dengan nama Anda), apa saja yang telah engkau lakukan di dunia ini, sehingga Aku harus memasukkanmu ke surga-Ku?”

Silakan Anda jawab dalam hati Anda masing-masing…

Semoga bermanfaat

PS: Dan Guru saya tadi namanya adl Ust Samsul Arifin Sbc

Tabik
- haridewa -
Professional Hypnotherapist
Business Coach
WA 08179039372

No comments:

Artikel Unggulan

Tanah Rot

Sepasang suami istri sedang menikmati bulan madu mereka di Pulau Dewata, Bali. Hari ini mereka berniat mengunjungi Tanah Lot untuk menyaksi...