POSTINGAN POPULER

Thursday, June 08, 2017

Hambatan atau Batu Loncatan

Suatu sabtu yang cerah,  Galih dan Ratna jalan-jalan ke Puncak naik motor. Saking asyiknya menikmati indahnya alam pegunungan, mereka tidak sadar kalau waktu sudah beranjak malam. Ternyata malam itu hujan mulai turun, maka mereka memutuskan untuk menginap di hotel. Karena malam minggu adalah peak season, mereka cuma berhasil mendapatkan satu kamar.

Untuk menjaga hal yang tak diinginkan maka Ratna  meletakkan guling di tengah tempat tidur sebagai pembatas. (Jangan pada ngeres ya Bro, malam ini semua kondisi TKA alias Terkendali Aman)


Minggu siang mereka turun pulang kembali ke Jakarta. Melewati jalan berliku-liku dan karena tiupan angin yang lumayan kencang, tiba-tiba saputangan penutup muka Ratna terlepas dan terbang melewati pagar sebuah rumah di pinggir jalan setinggi 3 meter. Kontan Galih menghentikan motornya, kemudian dia memanjat pagar rumah tadi untuk mengambilkan saputangan Ratna.

Dengan penuh rasa sayang Galih menyerahkan saputangan Ratna, namun tiba-tiba PLAKKK..!!!  Bukannya menerima saputangannya Ratna malah menampar Galih.

Dengan menahan sakit dan kaget Galih bertanya, "Ada apa sih Beb kok aku ditampar? Seharusnya khan bilang terimakasih sambil memeluk aku"
"Hanya gara-gara sebuah saputangan saja kamu rela naik turun memanjat tembok yang tinggi, tapi kenapa di dinginnya hawa Puncak tadi malam, memanjat guling saja kamu tidak berani?!?! Terlalu...! ",  jawab Ratna geram.
Galih cuma bisa garuk-garuk kepala sambil gigit ban motornya
***

Hehehe, sudah ah tertawanya. 

Sidang pembaca yang budiman saya ingin mengajak Anda untuk menemukan hikmah dibalik humor di atas. Dalam pelatihan Find The Happiness in YOU! di salah satu laundry terbesar di Bogor kemarin pagi,  saya menjelaskan mengenai salah satu budaya kerja mereka yaitu Etos Kerja Tinggi.

Ketika seseorang memiliki etos kerja tinggi maka mereka senantiasa akan selalu bekerja melampaui target dan melibas semua rintangan yang menghadang. Ada seribu satu jalan yang bisa dilalui agar targetnya tercapai.  Sebaliknya ketika etos kerjanya melempem maka akan selalu muncul alasan atas tak terpenuhinya sebuah target. Meminjam istilah TDW, mereka ini adalah pakar BEJ alias Blame, Excuse dan Justify.

Blame
Menyalahkan orang lain atas sesuatu yang terjadi di luar keinginan kita.
Contohnya faktor cuaca, iklim politik, suhu ekonomi yang lagi tidak bagus, birokrasi pemerintah, menyalahkan situasi dan lain-lain.

Excuse
Alasan yang seringkali dicari-cari untuk memperkuat Blame yang sebelumnya telah mereka buat.
Contohnya, usia (masih muda/sudah terlalu tua), bakat (tidak punya bakat), tingkat pendidikan (hanya tamatan SMP).

Justify
Pembenaran upaya untuk menutupi kelemahan/kemalasannya untuk berubah menjadi lebih baik dengan membenarkan keadaannya sebagai sesuatu hal yang wajar. Contohnya, ungkapan “Terang saja dia bisa berhasil karena punya modal.”
***

Sidang pembaca yang budiman, ketika seseorang sudah memiliki mental BEJ, maka mereka akan berhenti ketika menghadapi sebuah aral, sekecil apapun rintangan tadi, seperti kasus Galih pada malam hari itu.
Sementara dengan etos kerja tinggi maka meski setinggi apapun halangan yang menghadang akan tetap diloncatinya, seperti perjuangan Galih mengambilkan saputangan siang itu.

Kesimpulannya adalah:

"Sebuah rintangan akan menjadi HAMBATAN ketika rintangan tadi membuat diri kita berhenti mencapai target kita, namun kalau kita berani meloncatinya aral tadi bukan sebuah hambatan melainkan sebuah BATU LONCATAN"  Ituh....!!!!


Tabik
- haridewa -
Professional Hypnotherapist
Happiness Life Coach
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

No comments:

Artikel Unggulan

FRAME

"Pa, ini ada springbed lagi discount 70%, dari 3 jutaan menjadi 1 jutaan. Murah ya Pa. Beliin dong untuk hadiah ultah", demikian ...