POSTINGAN POPULER

Thursday, April 05, 2018

MUDIK GRATIS TAHUN INI

Tahun ini kemenhub kembali membuka program mudik lebaran gratis ke pelbagai pelosok daerah di Jawa. Tentunya masyarakat menyambut penuh suka cita program bagus ini. Dengan bergegas mereka segera mendaftarkan diri mereka meski bulan puasa saja belum menampakkan batang hidungnya.

Sahabatku yang berbahagia, dari sekian persyaratan yang dibutuhkan agar bisa mengikuti program ini, menurut Anda apakah syarat yang paling utama?
KTP, surat domisili, surat rekomendasi kantor, dll?
Bukan, bukan itu syarat utamanya. Justru syarat yang paling mendasar agar bisa disetujui ikut program mudik gratis adalah kita mesti memiliki KAMPUNG halaman! Sebuah TUJUAN!

Akan sama halnya ketika suatu saat Anda ingin memesan kendaraan online. Hal pertama yang mesti Anda lakukan adalah setting lokasi tujuan. Setelah itu Anda juga mesti menentukan 'pick up location'.
Bahkan terkadang meski sudah melakukan dua hal mendasar tadi kita masih juga bisa gagal mendapatkan kendaraan on line.
Apa pasal? Sang driver tidak mengenal atau tidak mau mengantar menuju tujuan tadi.
Ya, itulah pentingnya menentukan sebuah tujuan dalam semua lini kehidupan kita. Ketika kita tidak menentukan sebuah tujuan maka kita tidak akan beranjak dari posisi kita sekarang atau kita akan tiba di tempat yang tidak kita inginkan.
***

'WFO'
Banyak sekali terminologi mengenai penentuan tujuan ini. Visi, DREAM, goal,  resolusi, target dlsb. NLP mengenal hal ini sebagai WFO (Well Formed Outcome) atau sebuah tujuan yang disusun dengan baik yang telah disesuaikan dengan cara kerja pikiran manusia sehingga menjadi lebih mudah dicapainya. 

Minimal terdapat 8 syarat dalam WFO.

  1. WFO perlu disusun dengan kalimat yang berstruktur grammar positif, alias absen dari kata ‘tidak’ dan ‘jangan’.
  2. WFO perlu bisa dimengerti oleh indera, makin banyak indera bisa mengerti seperti apa WFO  yang diharapkan, maka makin mudah pikiran untuk mendapatkannya. Jadi WFO minimal bisa dihayati 3 dari 5 indera: secara Penglihatan, Pendengaran, Perabaan/Perasaan, dan lebih baik lagi Penciuman atau Pencecapan. Dengan membuat WFO dimengerti indera, maka pikiran menjadi mengerti, apakah sudah tercapai, atau belum WFO itu?
  3. WFO perlu disusun dengan spesifik, bila perlu gunakan standard 5W,  1H.
  4. Sesuai konteks
  5. Pastikan WFO tadi berada dalam kendali kita
  6. Kita memiliki sumberdaya untuk mencapainya
  7. WFO perlu ekologis, alias tidak melawan sistem keseimbangan internal diri sendiri dan terhadap kehidupan sekitarnya.
  8. Tentukan langkah awal. WFO yang bisa diinisiasi (diawali) dan dijaga oleh pemiliknya, akan lebih mudah didapatkan, dari pada WFO yang (tercapai atau tidaknya) sangat digantungkan dari pihak luar.
***

'Time Distortion'
Sahabatku yang berbahagia , pernahkah Anda mengalami 'time distortion' dalam sebuah perjalanan? Anda merasa lama dan jenuh ketika berkendara menuju satu tempat yang belum pernah Anda tuju. Namun anehnya ketika pulang Anda merasa jarak tempuhnya menjadi lebih dekat dan dalam waktu singkat bisa sampai ke tujuan (rumah). Pernah khan?

Tahukah Anda apa penyebabnya? Dari beberapa kawan yang saya tanya, inilah alasannya:

  1. Kita mengenal rumah kita dengan baik 
  2. ‎Kita merasa lega karena urusan di tempat tujuan sudah selesai dan saatnya pulang 
  3. ‎Ada kerinduan untuk pulang ke rumah 
  4. ‎Kita sudah mengenal rute menuju rumah 
  5. ‎Perjalanan pulang tanpa beban


Demikian juga pola pencapaian sebuah WFO, jika Anda merasa bahwa mencapai WFO merupakan sebuah journey panjang menuju sebuah tempat yang masih asing, maka perasaan pertamalah yang akan muncul. Anda akan merasa jenuh, terbebani dan hopeless.

Oleh karena itu kita perlu memanfaatkan semua indera kita agar kita mampu merasakan sensasi 5 alasan di atas. Kita perlu merasa bahwa WFO itu sudah kita capai bahkan pada etape pertama kita memulainya. Jika kita menuliskannya dalam bahasa Inggris, maka gunakanlah kaidah waktu 'Past Future Perfect Tense'. Sesuatu yang sudah selesai dikerjakan dalam waktu yang akan datang. Maka sebisa mungkin hindarkan pula penggunaan kata 'mau, ingin atau akan'.
***

'Antara WFO dan DOA'
Sebagai kaum beragama, dari kecil kita diajarkan untuk selalu berdoa sebelum memulai sebuah aktifitas. Ada doa sebelum dan  sesudah makan, doa mau tidur dan bangun tidur, doa naik kendaraan, doa berbicara di depan umum dlsb.

Mungkin sebagian dari Anda menganggap bahwa doa hanyalah sebuah retorika belaka. Pelengkap ujaran agar terkesan religius. Namun tahukah Anda bahwa ternyata rangkaian kata yang kita ucap maupun tidak, akan langsung menghantarkan kita pada suatu state (kondisi pikiran-perasaan yang kita alami) tertentu. Ketika kita berucap baik maka state kita menjadi baik,  ketika kita berucap buruk, state pun menyesuaikan.

State, pada akhirnya akan menjadi penentu perilaku yang akan kita munculkan. State positif, ada orang menyenggol mobil kita di jalan,  bisa kita maafkan. State negatif, orang nyalip kita di jalan tol,  bisa kita kejar tanpa ampun.

Maka kunci memunculkan perilaku yang baik adalah memprogram state yang positif, yang kuncinya adalah memulai dengan pemilihan kata-kata yang positif pula.
Nah WFO merupakan satu cara yang sangat powerful dalam pemilihan kata kata tadi.
Dalam pengalaman saya pribadi, ternyata WFO ini bisa dipilah menjadi beberapa term disesuaikan dengan jangka waktu pencapaiannya. Ada yang immediate, short term, mid term, long term dan very long term.

Semua orang pada akhirnya ingin hidup bahagia dan kemudian meninggal masuk surga. Itu adalah very longterm WFOLongterm WFO  bisa berupa VISI besar karier atau pencapaian kehidupan spiritual. Sementara short-mid term WFO  mungkin termasuk pada kepemilikan rumah atau mobil.

Dan apakah yang masuk dalam kriteria immediate WFO? Justru hal penting ini yang sering kita abaikan. Misal, siang ini kita ingin makan apa. Perjalanan ke kantor mau lancar atau macet? Mau mendapat tempat parkir yang sesuai keinginan di kantor atau mal? Atau sekedar ingin buang hajat dengan aman dan nyaman di kemacetan lalulintas Jakarta yang kian hari kian parah saja.

Semua itu perlu WFO!

Dan meski sederhana tetaplah ingat untuk menyusunnya sesuai 8 kaidah seperti yang sudah saya paparkan pada awal tulisan ini.
Bahkan ketika saya masih menjadi Sales Manager di perusahaan farmasi dulu saya tidak akan mengijinkan team saya keluar kantor tanpa memiliki sebuah WFO.  Kami menyebutnya sebagai action call plan.
***

Sudah terlalu banyak contoh WFO yang berhasil saya capai, dari rumah, mobil, pencapaian karir sampai kemenangan tender training. Tanpa berniat untuk menyombongkan diri, saya ingin menceritakan hal remeh temeh yang saya alami beberapa waktu yang lalu.

Hari itu saya janji terapi dengan klien di kantor Jakarta di bilangan Tanah Abang. Siang ketika saya sampai di lokasi ternyata klien juga sudah sampai sehingga tidak ada lagi waktu untuk makan siang. Maka saya segera membujuk salah satu 'musketeer' saya agar menahankan lapar sampai waktu terapi selesai. 

Kemudian saya menyusun sebuah WFO agar bisa makan sate solo selepas sesi terapi usai sbb:

'Bismillahir rahmanir rahiim. Aku yakin atas ijin Allah aku bisa makan sate dan tongseng Solo selepas sesi terapi ini dengan nikmat. Aamiin'

Ternyata terapi baru kelar menjelang maghrib, sementara malam itu saya ada janji untuk bertemu dengan beberapa kawan terapis (Muhammad Hujairin cs) di Tanjung Barat. Segera saya bergegas bersama seorang kawan (Mas Kono) menuju Tanjung Barat sambil di sepanjang jalan mencari warung sate Solo.

Beberapa kali kawan saya menawarkan untuk mampir di Food Court yang terlihat ramai. Namun saya masih menolak karena food court tadi tidak menyediakan sate Solo. Sampai akhirnya kami melewati lokasi tempat pertemuan tadi, dan kawan saya menawarkan untuk kembali saja ke food court yang sudah terlewati tadi dari pada perut semakin keroncongan.
Namun saya tetap keukeuh dengan WFO saya dan mengajak kawan saya untuk melaju sedikit lagi melewati gedung pertemuan tadi.

Sim salabim abrakadabra prok prok prok dibantu jadi apa ya? Hanya berselang sepuluh meter dari gedung pertemuan tadi di sebuah tikungan ada sebuah warung Sate Khas Solo yang seolah memang sedang menunggu kedatangan kami berdua.

Kawan saya bertanya apakah saya memang sudah tahu bahwa ada warung Sate Solo di tikungan tadi. Lha boro boro tahu, datang ke situ saja seingat saya baru sekali kok. 

Pengalaman ini mengajarkan saya untuk lebih bersyukur serta menambah keyakinan saya bahwa seluruh perjalanan kehidupan ini merupakan jalinan-jalinan WFO yang saling terhubung satu sama lain. Tergantung kita mau menyusunnya atau tidak.

Saya jadi ingat sebuah quote dari Jack Welch yang mengatakan 'Tentukan nasib Anda sendiri sekarang, karena jika Anda tidak melakukannya, orang lain akan melakukannya untuk Anda'

Maka pertanyaan saya untuk Anda, "Sudahkah Anda membuat WFO hari ini?"

"Saya sudah....!"

PS:
Anda ingin belajar lebih jauh mengenai WFO dan NLP?  Join saja kelas Neo NLP Practitioner  yang rutin sbulan sekali saya buat di Cafe Therapy Bogor

Sila tebar jika manfaat

Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
Professional Hypnotherapist
FB: Hari Dewanto
WA: 08179039372

No comments:

Artikel Unggulan

SLEIGHT OF MOUTH

Jumat berkah, meski tertanggal 13, namun saya doakan Anda semua berada dalam kondisi yang bergairah, penuh semangat dan dianugerahi rejeki ...